Minggu, 15 April 2012

ASKEP URTIKARIA

ASKEP URTIKARIA

KONSEP PENYAKIT
1.    Pengertian
Urtikaria merupakan istilah kilnis untuk suatu kelompok kelainan yang di tandai dengan adanya pembentukan bilur-bilur pembengkakan kulit yang dapat hilang tanpa meninggalkan bekas yang terlihat. ( robin graham, brown. 2205 )
Urtikaria yaitu keadaan yang di tandai dengan timbulnya urtika atau edema setempat yang menyebabkan penimbulan di atas permukaan kulit yang di sertai rasa sangat gatal ( ramali, ahmad. 2000 )
Urtikaria adalah reaksi vascular di kulit akibat bermacam-macam sebab, biasanya di tandai dengan edema setempat yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan, berwarna pucat dan kemerahan, meninggi di permukaan kulit, sekitarnya di kelilingi halo (kemerahan). Keluhan subjektif biasanya gatal, rasa tersengat atau tertusuk.
Dikenal dua macam bentuk klinik urtikaria, yaitu bentuk akut ( <> 6 minggu). Urtikaria yang mengenai lapisan kulit yang lebih dalam daripada dermis, dapat di submukosa, atau di subkutis, juga dapat mengenai saluran nafas, saluran cerna, dan organ kardiovaskuler dinamakan angiodema.
Sinonim : Hives, nettle rash, biduran, kaligata.

2.    Klasifikasi
Terdapat bermacam - macam paham penggolongan urtikaria, berdasarkan lamanya serangan berlangsung di bedakan urtikaria akut dan kronik. Disebut akut bila serangan berlangsung kurang dari 6 minggu, atau berlangsung selama 4 minggu tetapi timbul setiap hari, bila melebihi waktu tersebut di golongkan sebagai urtikaria kronik. Urtikaria akut sering terjadi pada anak muda, umumnya laki-laki lebih sering daripada perempuan. Urtikaria kronik lebih sering pada wanita usia pertengahan. Penyebab urtikaria akut lebih mudah di ketahui, sedangkan pada urtikaria kronik sulit di temukan. Ada kecenderungan urtikaria lebih sering di derita oleh penderita atopik.
Berdasarkan morfologi klinis, urtikaria di bedakan menurut bentuknya, yaitu urtikaria papular bila berbentuk papul, gutata bila besarnya sebesar tetesan air dan girata bila ukuranya besar-besar. Terdat pula yang anular dan arsinar. Menurut luasnya dan dalamnya jaringan yang terkena, di bedakan urtikaria lokal, generalisata dan angioedema. Ada pula yang mengolongkan berdasarkan penyebab urtikaria dan mekanisme terjadinya, maka di kenal urtikaria imunologik,  non imunologik,dan idiopatik sebagai berikut:
¨      Urtikaria atas dasar reraksi imunologik
a)    Bergantung pada IgE (reaksi alergi tipe I)
­       Pada Atofi
­       Antigen spesifik (polen, obat, venom)
b)    Ikut sertanya komplemen
­       Pada reaksi sitotoksik (reaksi alergi tipe II)
­       Pada reaksi kompleks imun (reaksi alergi tipe III)
­       Defisiensi tipe I esterase inhibitor (genetik)
c)    Reaksi alergi tipe IV (urtikaria kontak)
¨      Urtikaria atas dasar reaksi non imunologik
    1. Langsung memacu sel mas sehingga terjadi pelepasan radiator (misalnya obat golongan opiat dan bahan kontras).
    2. Bahan yang menyebabkan perubahan metabolisme asam arakidonat (aspirin, obat anti-inflamasi non-steroid golongan azodyes)
    3. Trauma fisik, misalnya dermo grafisme, rangsangan dingin, panas atau sinar dan bahan kolinergik.
¨      Urtikaria yang tidak jelas penyebab dan mekanismenya, digolongkan idiopatik

3.    Bentuk – Bentuk Klinis Urtikaria
  1. URTIKARIA AKUT
Urtikaria akut hanya berlansung selama beberapa jam atau beberapa hari. yang sering terjadi penyebabnya adalah:
-       Adanya kontak dengan tumbuhan ( misalnya jelatang ), bulu binatang/ makanan.
-       Akibat pencernaan makanan, terutama kacang-kacangan, kerangan-kerangan dan strouberi.
-       Akibat memakan obat misalnya aspirin dan penisilin.
  1. URTIKARIA KRONIS
Biasanya berlangsung beberapa minggu, beberapa bulan, atau beberapa tahun. pada bentuk urtikaria ini jarang didapatkan adanya faktor penyebab tunggal.
  1. URTIKARIA PIGMENTOSA
Yaitu suatu erupsi pada kulit berupa hiperpigmentasi yang berlangsung sementara, kadang-kadang disertai pembengkakan dan rasa gatal.
  1. URTIKARIA SISTEMIK ( PRURIGO SISTEMIK )
Adalah suatu bentuk prurigo yang sering kali terjadi pada bayi kelainan khas berupa urtikaria popular yaitu urtikaria yang berbentuk popular-popular yang berwarna kemerahan.
Berdasarkan penyebabnya, urtikaria dapat dibedakan menjadi:
­       Heat rash yaitu urtikaria yang disebabkan panas
­       Urtikaria idiopatik yaitu urtikaria yang belum jelas penyebabnya atau sulit dideteksi
­       Cold urtikaria adalah urtikaria yang disebabkan oleh rangsangan dingin. Yang timbul setelah beberapa menit atau beberapa jam setelah terpapar hawa dingin/ air dingin. Dapat ringan/setempat, sampai berat (disertai hipotensi, hilangnya kesadaran dan sesak nafas)
­       Dermografik urtikaria (urtikaria fisik) bila timbul akibat tekanan berbentuk linier sesuai dengan bagian tekanan/garukan/goresan. Tes dermografisme positif (digarus,digores akan keluar urtikaria).
­       Urtikaria alergika, bila karena alergi makanan
­       Aquagenic urtikaria yaitu urtikaria yang disebabkan oleh rangsangan air
­       Solar urtikaria yaitu urtikaria yang disebabkan sengatan sinar matahari
­       Vaskulitik urtikaria
­       Cholirgening urtikaria yaitu urtikaria yang disebabkan panas, latihan berat dan stress, bentuknya kecil-kecil tersebar dan sangat gatal
­       Urtikaria kronis, bila tiap hari terkena urtikaria selama 6 minggu berturut-turut

4.    Etiologi
Pada penyelidikan ternyata hampir 80% tidak diketahui penyebabnya. Di duga penyebab urtikaria bermacam-macam, diantaranya :
  1. Obat
Bermacam – macam obat dapat menimbulkan urtika, baik secara imunologi maupun nonimunologik. Hampir semua obat sistemik menimbulkan urtikaria secara imunologi tipe I atau II. Contohnya ialah obat – obat golongan penisilin, sulfonamid, analgesik, pencahar, hormon, dan uretik. Adapun obat secara nonimunologi langsung merangsang sel mas untuk melepaskan histamin, misalnya kodein, opium, dan zat kontras. Aspirin menimbulkan urtikaria karena menghambat sintesis prostaglandin dari asam arakidonat.

  1. Makanan
Peranan makanan ternyata lebih penting pada urtikaria yang akut, umumnya akibat reaksi imunologik. Makanan berupa protein atau berupa bahan lainnya yang dicampurkan ke dalamnya seperti zat warna, penyedap rasa, atau bahan pengawet, sering menimbulkan urtikaria alergika. Contoh makanan yang sering menimbulkan urtikaria adalah telur, ikan, kacang, udang, coklat, tomat, arbey, baby, keju, bawang, dan semangka ; bahan yang dicampurkan seperti asam nitrat, asam benzoat, ragi, salisilat, dan panisilin. CHAM-PION 1969 melaporkan ± 2% urtikaria kronik disebabkan sensitisasi terhadap makanan.
  1. Gigitan/sengatan serangga
Gigitan atau sengatan serangga dapat menimbulkan urtikaria setempat, agaknya hal ini menyebab diperantai oleh IgE (Tipe I) dan tipe seluler (tipe IV). Tetapi venom dan toksin bakteri, biasanya dapat pula mengaktifkan komplemen. Nyamuk, kepinding dan serangga lainnya menimbulkan urtika bentuk papular di sekitar gigitan, biasanya sembh dengan sendirinya setelah beberapa hari, minggu, atau bulan.
  1. Bahan fotosensitizer
Bahan semacam ini, gleseofulvin, fenotiazin, sulfonamin, bahan kosmetik, dan sabun germisin sering menimbulkan urtikaria.
  1. Inhalan
Inhalan berupa serbuk sari bunga (polen), spora jamur, debu, bulu binatang, dan aerosol, umumnya lebih mudah menimbulkan urtikaria alergi (Tipe I). Reaksi ini sering di jumpai pada penderita atofi dan disertai gangguan nafas.
  1. Kontaktan
Kontaktan yang sering menimbulkan urtikaria ialah kutu binatang, serbuk tekstil, air liur binatang, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, bahan kimia, misalnya insect refelent (penangkis serangga) dan bahan kosmetik. Keadaan ini disebabkan bahan tersebut menembus kulit dan menimbulkan urtikaria.
TUFT (1975) melaporka urtikaria akibat sefalosporin pada seorang apoteker, hal yang jarang terjadi ; karena kontak dengan antibiotik umumnya menimbulkan dermatitis kontak. Urtikaria akibat kontak dengan klorida kobal, indikator warna pada tes provokasi keringat, telah dilaporkan oleh SMITH (1975).
  1. Trauma fisik
Trauma fisik dapat diakibatkan oleh faktor dingin, yakni berenang atau memegang benda dingin ; faktor panas, misalnya sinar matahari, sinar UV , radiasi, dan panas pembakaran ; faktor tekanan, yaitu goresan, pakain ketat, ikat pinggang, air yang menetes atau semprotan air, vibrasi, dan tekanan berulang-ulang contohnya pijatan, keringat, pekerjaan, demam, dan emosi menyebabkan urtikaria fisik, baik secara imunologik maupun non imunologik. Klinis biasanya terjadi ditempat yang mudah terkena trauma. Dapat timbul urtikaria setelah goresan dengan benda tumpul beberapa menit sampai beberapa jam kemudian. Fenomena ini disebut dermografisme atau fenomena darier.
  1. Infeksi dan infestasi
Bermacam-macam infeksi dapat menimbulkan urtikaria, misalnya infeksi bakteri, virus, jamur, maupun investasi parasit. Infeksi oleh bakteri, contohnya pada infeksi tonsil, infeksi gigi dan sinusitis. Masih merupakan pertanyaan, apakah urtikaria timbul karena toksik bakteri atau oleh sensitisasi. Infeksi visrus hepatitis, mononukleosis, dan infeksi virus Coxsackie pernah dilaporkan sebagai faktor penyebab. Karena itu pada urtikaria yang idiopatik perlu dipikirkan kemungkinan infeksi virus subklinis. Investasi cacing pita, cacing tambang, cacing gelang, juga Schistosoma atau Echinococcus dapat menyebabkan urtikaria.
  1. Psikis
Tekanan jiwa dapat memacu sel mas atau langsung menyebabkan peningkatan permeabilitas dan vasodilatasi kapiler. Ternyata hampir 11,5% penderita urtikari menunjukkan gangguan psikis. Penyelidikan memperlihatkan bahwa hipnosis dapat menghambat eritema dan urtikaria. Pada percobaan induksi psikis, ternyata suhu kulit dan ambang rangsang eritema meningkat.
  1. Genetik
Faktor genetik ternyata berperan pentik pada urtikaria dan angioedema, menunjukkan penurunan autosoma dominan.
Diantaranya ialah angioneurotik edema herediter, familial cold urtikaria, familial lokalized heat urtikaria, vibratory angioedema, heredo-familial symdrom of urtikaria deafness and amyloidosis, dan erythropoietic protoporphyria.
  1. Penyakit sistemik
Beberapa penyakit kolagen dan keganasan dapat menimbulkan urtikaria, reaksi lebih sering disebabkan reaksi kompleks antigen-antibody. Penyakit vesiko-bulosa, misalnya pemfigus dan dermatitis herpetiformis duhring sering menimbulkan urtikaria. Sejumlah 7-9% penderita lupus eritematosus sitemik dapat mengalami urtikaria. Beberapa penyakit sistemik yang sering disertai urtikaria antara lain limfoma, hifertiroid, hepatitis, urtikaria pigmentosa, artritis pada demam rematik, dan artritis reumatoid zuvenilis.

5.    Patofisiologi
Faktor-faktor pencetus :
Fx. Imunologik/non imunologik

Kulit

Melakukan Pertahanan

Induksi Respon Antiodi IgE

Sel Mast Basofil

Pelepasan mediator
(H, SRSA, Serotonin,Kinin)

Anafilaksis Sistemik

Urtikaria
6.    Manifestasi Klinik
­       Gatal
­       Rasa terbakar/tertusuk
­       Tampak eritema & oedema setempat berbatas tegas, kadang bagian tengah tampak lebih pucat
­       Bentuk popular
­       Dermografisme : oedema & eritema yg linear di kulit bila terkena tekanan/goresan benda tumpul, timbul 30 menit

7.    Komplikasi
Lesi-lesi urtikaria bisa sembuh tanpa komplikasi. Namun pasien dengan gatal yang hebat bisa menyebabkan purpura dan excoriasi yang bisa menjadi infeksi sekunder. Penggunaan antihistamin bisa menyebabkan somnolens dan bibir kering. Pasien dengan keadaan penyakit yang berat bisa mempengaruhi kualitas hidup. Dapat pula terjadi angioedema

8.    Pemeriksaan Diagnostik
­       Darah, urine & faeces rutin
­       Pemeriksaan gigi, THT, usapan vagina
­       Pemeriksaan kadar IgE, eosinofil & komplemen
­       Tes kulit
­       Tes eliminasi makanan
­       Histopatologik
­       Tes Provokasi
­       Injeksi mecholyl IC
­       Tes dengan es
­       Tes dengan air hangat
                                                                
9.    Penatalaksanaan Medis
Edukasi pasien untuk menghindari pencetus (yang bisa diketahui). Obat opiat dan salisilat dapat mengaktivasi sel mast tanpa melalui IgE.
Pada urtikaria generalisata mula-mula diberikan injeksi larutan adrenalin 1/1000 dengan dosis 0,01 ml/kg intramuskular (maksimum 0,3 ml) dilanjutkan dengan antihistamin penghambat H1 seperti CTM 0,25 mg/kg/hari dibagi 3 dosis sehari 3 kali yang dikombinasi dengan HCL efedrin 1 mg/tahun/kali sehari 3 kali. (Lihat penanggulangan anafilaksis). Bila belum memadai ditambahkan kortikosteroid misalnya prednison (sesuai petunjuk dokter).
Pada urtikaria yang sering kambuh terutama pada anak sekolah, untuk menghindari efek samping obat mengantuk, dapat diberikan antihistamin penghambat H1 generasi baru misalnya setirizin 0,25 mg/kg/hari sekali sehari.

10. Pengobatan
­       Hilangkan faktor pencetus
­       Anti histamin
­       Anti enzym (antiplasmin)
­       Desensitasi
­       Eliminasi diet

11. Pencegahan
o    Hindari alergen yang diketahui. Termasuk beberapa makanan dan penyedap makanan, obat-obatan dan beberapa situasi seperti panas, dingin atau stress emosional
o    Membuat catatan. Mencatat kapan dan dimana urtikaria terjadi dan apa yang kita makan. Hal ini akan membantu anda dan dokter untuk mencari penyebab urtikaria.
o    Hindari pengobatan yang dapat mencetuskan urtiakria seperti antibiotik golongan penisilin, aspirin dan lainnya.



KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A.   PENGKAJIAN
Untuk menetapkan bahan alergen penyebab urtikaria kontak alergik diperlukan anamnesis yang teliti, riwayat penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisik dan uji tempel.
Anamnesis ditujukan selain untuk menegakkan diagnosis juga untuk mencari kausanya. Karena hal ini penting dalam menentukan terapi dan tindak lanjutnya, yaitu mencegah kekambuhan. Diperlukan kesabaran, ketelitian, pengertian dan kerjasama yang baik dengan pasien. Pada anamnesis perlu juga ditanyakan riwayat atopi, perjalanan penyakit, pekerjaan, hobi, riwayat kontaktan dan pengobatan yang pernah diberikan oleh dokter maupun dilakukan sendiri, obyek personal meliputi pertanyaan tentang pakaian baru, sepatu lama, kosmetika, kaca mata, dan jam tangan serta kondisi lain yaitu riwayat medis umum dan mungkin faktor psikologik.
Pemeriksaan fisik didapatkan, biasanya klien mengeluh gatal, rasa terbakar, atau tertusuk. Klien tampak eritema dan edema setempat berbatas tegas, kadang-kadang bagian tengah tampak lebih pucat. Bentuknya dapat papular seperti pada urtikaria akibat sengatan serangga, besarnya dapat lentikular, numular, sampai plakat. Kriteria diagnosis urtikaria alergik adalah :
­       Adanya riwayat kontak dengan suatu bahan satu kali tetapi lama, beberapa kali atau satu kali tetapi sebelumnya pernah atau sering kontak dengan bahan serupa.
­       Terdapat tanda-tanda urtikaria terutama pada tempat kontak.
­       Terdapat tanda-tanda urtikaria disekitar tempat kontak dan lain tempat yang serupa dengan tempat kontak tetapi lebih ringan serta timbulnya lebih lambat, yang tumbuhnya setelah pada tempat kontak.
­       Rasa gatal
­       Uji tempel dengan bahan yang dicurigai hasilnya positif.
1.    Identitas Pasien.
2.    Keluhan Utama.
Biasanya pasien mengeluh gatal, rambut rontok.
3.    Riwayat Kesehatan.
a.    Riwayat Penyakit Sekarang :
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
b.    Riwayat Penyakit Dahulu :
Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
c.    Riwayat Penyakit Keluarga :
Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
d.    Riwayat Psikososial :
Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang mengalami stress yang berkepanjangan.
e.    Riwayat Pemakaian Obat :
Apakah pasien pernah menggunakan obat-obatan yang dipakai pada kulit, atau pernahkah pasien tidak tahan (alergi) terhadap sesuatu obat.
f.     Pemeriksaan fisik
­       KU : lemah
­       TTV : suhu naik atau turun.
­       Kepala
Bila kulit kepala sudah terkena dapat terjadi alopesia.
­       Mulut
Dapat juga mengenai membrane mukosa terutama yang disebabkan oleh obat.
­       Abdomen
Adanya limfadenopati dan hepatomegali.
­       Ekstremitas
Perubahan kuku dan kuku dapat lepas.
­       Kulit
Kulit periorbital mengalami inflamasi dan edema sehingga terjadi ekstropion pada keadaan kronis dapat terjadi gangguan pigmentasi. Adanya eritema , pengelupasan kulit , sisik halus dan skuama.

B.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang umumnya muncul pada klien penderita kelainan kulit seperti
Urtikaria adalah sebagai berikut :
1.    Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka akibat gangguan integritas
2.    Resiko kerusakan kulit berhubungan dengan terpapar alergen
3.    Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan pruritus
4.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus
5.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus.
6.    Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan inadekuat informasi



C.   INTERVENSI KEPERAWATAN
No.
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Tujuan/Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1
Potensial terjadinya infeksi b.d. adanya luka akibat gangguan integritas
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil :
Hasil pengukuran tanda vital dalam batas normal.
- RR :12-24 x/menit
- N : 70-82 x/menit
- T : 36-37 OC
- TD : 120/85 mmHg
Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi (kalor,dolor, rubor, tumor, infusiolesa)
Hasil pemeriksaan laboratorium dalam batas normal Leuksosit darah : 4.400 – 11.300/mm3
1.    Lakukan tekni aseptic dan antiseptic dalam melakukan tindakan pada pasien
2.    Ukur tanda vital tiap 4-6 jam


3.    Observasi adanya tanda-tanda infeksi
4.    Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet TKTP
5.    Libatkan peran serta keluarga dalam memberikan bantuan pada klien.
6.    Jaga lingkungan klien agar tetap bersih.
1.  Dengan teknik septik dan aseptik dapat mengirangi dan mencegah kontaminasi kuman.
2.  Suhu yang meningkat adalah imdikasi terjadinya proses infeksi.
3.  Deteksi dini terhadap tanda-tanda infeksi
4.  Untuk menghindari alergen dari makanan.
5.  Memandirikan keluarga


6.  Menghindari alergen yang dapat meningkatkan urtikaria.
2
Resiko kerusakan kulit b.d.  terpapar alergen
Tujuan :
Tidak terjadi kerusakan pada kulit klien
Kriteria hasil :
Klien akan mempertahankan integritas kulit, ditandai dengan menghindari alergen

1.  Ajari klien menghindari atau menurunkan paparan terhadap alergen yang telah diketahui.
2.  Baca label makanan kaleng agar terhindar dari bahan makan yang mengandung alergen
3.  Hindari binatang peliharaan.



4.  Gunakan penyejuk ruangan (AC) di rumah atau di tempat kerja, bila memungkinkan.
1.  Menghindari alergen akan menurunkan respon alergi.

2.  Menghindari dari bahan makanan yang mengandung alergen.
3.  Binatang sebaiknya hindari memelihara binatang atau batasi keberadaan binatang di sekitar area rumah.
4.  AC membantu menurunkan paparan terhadap beberapa alergen yang ada di lingkungan.
3
Perubahan rasa nyaman b.d.  pruritus
Tujuan :
Rasa nyaman klien terpenuhi
Kriteria hasil :
Klien menunjukkan berkurangnya pruritus, ditandai dengan berkurangnya lecet akibat garukan, klien tidur nyenyak tanpa terganggu rasa gatal, klien mengungkapkan adanya peningkatan rasa nyaman
1.      Jelaskan gejala gatal berhubungan dengan penyebabnya (misal keringnya kulit) dan prinsip terapinya (misal hidrasi) dan siklus gatal-garuk-gatal-garuk.
2.    Cuci semua pakaian sebelum digunakan untuk menghilangkan formaldehid dan bahan kimia lain serta hindari menggunakan pelembut pakaian buatan pabrik.
3.    Gunakan deterjen ringan dan bilas pakaian untuk memastikan sudah tidak ada sabun yang tertinggal.
4.    Jaga kebersihan kulit pasien

5.    Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang rasa gatal
1.  Dengan mengetahui proses fisiologis dan psikologis dan prinsip gatal serta penangannya akan meningkatkan rasa kooperatif.

2.  Pruritus sering disebabkan oleh dampak iritan atau allergen dari bahan kimia atau komponen pelembut pakaian.

3.  Bahan yang tertinggal (deterjen) pada pencucian pakaian dapat menyebabkan iritasi.
4.  Mengurangi penyebab gatal karena terpapar alergen.
5.  Mengurangi rasa gatal.

4
Gangguan pola tidur b.d. pruritus
Tujuan :
Klien bisa beristirahat tanpa adanya pruritus.
Kriteria Hasil :
1.Mencapai tidur yang nyenyak.
2.Melaporkan gatal mereda.
3.Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat.
4.Menghindari konsumsi kafein.
5.Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur.
6.Mengenali pola istirahat/tidur yang memuaskan.
1.    Mengerjakan hal ritual menjelang tidur.


2.    Menjaga agar kulit selalu lembab.




3.    Menghindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur.
4.    Melaksanakan gerak badan secara teratur.
5.    Nasihati klien untuk menjaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan kelembaban yang baik.
1.  Udara yang kering membuat kulit terasa gatal, lingkungan yang nyaman meningkatkan relaksasi.
2.  Tindakan ini mencegah kehilangan air, kulit yang kering dan gatal biasanya tidak dapat disembuhkan tetapi bisa dikendalikan.
3.  Kafein memiliki efek puncak 2-4 jam setelah dikonsumsi.
4.  Memberikan efek menguntungkan bila dilaksanakan di sore hari.
5.  Memudahkan peralihan dari keadaan terjaga ke keadaan tertidur.

5
Gangguan citra tubuh b.d.  penampakan kulit yang tidak bagus
Tujuan :
Pengembangan peningkatan penerimaan diri pada klien tercapai
Kriteria Hasil :
1.Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri.
2.Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri.
3.Melaporkan perasaan dalam pengendalian situasi.
4.Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri.
5.Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat.
6.Tampak tidak meprihatinkan kondisi.
7.Menggunakan teknik penyembunyian kekurangan dan menekankan teknik untuk meningkatkan penampilan
1.    Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata,ucapan merendahkan diri sendiri).



2.    Identifikasi stadium psikososial terhadap perkembangan.


3.    Berikan kesempatan pengungkapan perasaan.

4.    Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan klien, bantu klien yang cemas mengembangkan kemampuan untuk menilai diri dan mengenali masalahnya.

5.    Dukung upaya klien untuk memperbaiki citra diri , spt merias, merapikan.
6.    Mendorong sosialisasi dengan orang lain.
1.  Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit/keadaan yang tampak nyata bagi klien, kesan orang terhadap dirinya berpengaruh terhadap konsep diri.
2.  Terdapat hubungan antara stadium perkembangan, citra diri dan reaksi serta pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya.
3.  Klien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami.
4.  Memberikan kesempatan pada petugas untuk menetralkan kecemasan yang tidak perlu  terjadi dan memulihkan realitas situasi, ketakutan merusak adaptasi klien .
5.  Membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.

6.  Membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.
6
Kurang pengetahuan tentang program terapi b.d. inadekuat informasi
Tujuan :
Terapi dapat dipahami dan dijalankan
Kriteria Hasil :
1.Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit.
2.Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi.
3.Melaksanakan mandi, pembersihan dan balutan basah sesuai program.
4.Menggunakan obat topikal dengan tepat.
5.Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.
1.    Kaji apakah klien memahami dan mengerti tentang penyakitnya.
2.    Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki kesalahan konsepsi/informasi.

3.    Peragakan penerapan terapi seperti, mandi dan penggunaan obat-obatan lainnya.
4.    Nasihati klien agar selalu menjaga hygiene pribadi juga lingkungan..

1.  Memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana penyuluhan
2.  Klien harus memiliki perasaan bahwa sesuatu dapat mereka perbuat, kebanyakan klien merasakan manfaat.
3.  Memungkinkan klien memperoleh cara yang tepat untuk melakukan terapi.
4.  Dengan terjaganya hygiene, dermatitis alergi sukar untuk kambuh kembali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar